Cooking Class at La Cuisine Paris

Akhirnya sempat juga ikutan kelas masak di Paris, secara sudah pengen banget ingin tau resep-resep masakan khas sono daaaaan katanya Perancis adalah pusat makanan di dunia *walaupun tetep balado gereh dan sayur asem no. 1 buat saya hehehe*

Disempet-sempetin ikut Cooking Class-nya La Cuisine Paris. Intinya, keren banget! gedungnya kecil dan bersih, simple banget, sekali buka kelas maksimal 10 orang. Duuuuh impian banget bisa punya gedung + kelas masak seperti ini ya dep *colek-colek si Mamah* amiiiiin. Oya, asiknya juga cooking class-nya dengan media bahasa inggris, jadi emang ditujukan untuk para turis yg pengen belajar masakan Perancis, like moi *eciyeeeee*

Disini kita belajar 3 menu masakan khas-nya Perancis, yaitu :
Magret de Carard aux figue (steak dada bebek yg ndut *ngiler*)
Ratatouille (makanan daerahnya Perancis, kaya sayur asem gitu deh, tp ini tumisan)
Tartelettes Amandine aux poires (pear pie dengan vla almond yg enyaaaaak)

Dengan seorang chef keren yg kasi ilmu plus tips penting seputar memasak, kita juga tetep bisa hands on semua masakan, pokoke kalau dikasih bahan dan peralatan yang sama canggihnya bisa bikin deh hahah *ngeles*.

Asiknya, peserta disini gak cuma belajar memasak, dapat tips, tapi ikut membantu membereskan meja, menyiapkan piring dan gelas dan menata makanan di piring masing-masing. Trus nanti stlh semua masakan siap, kita makan bareng-bareng hasil masakan kita sambil saling berkenalan 😀  Tapi urusan cuci cuci tetap ada pelayannya sendiri dong hahaha.

Untuk resep-resepnya ntar saya bakal sharing setelah lulus uji coba di rumah *pede mo bikin lagi*. Foto-foto dulu aja dah 😀

 
Image
Yay! Marikitmas, Mari kita masak!

Image
sang chef sibuk memberi tips and tricks

ImageMarkitmak, Mari kita makan 😀
Magret de Carard aux figue, dengan Ratatouille dan seiris baguette

Image
Dessert: Tartelettes Amandine aux poires. kenyaaaaang *burp*

ImageKiri: Yihi. mejeng dulu sama si tartelletes sebelum disikat:D
Kanan: cetakan kukis berbentuk menara eiffel, beli cukup 1 saja, mehong bok :p

Imagedear chef, thankyou 😀 
*serius lupa namanya :p* *tetep ya bok, bapul xixixi*


Iklan

Mexican Food Style

Gara-gara setelah on-air di CosmopolitanFM terus makan di Chilis (hasil racunan Nandra) bareng depe dan suaminya (maafkan akyu suamiku tidak mengajak dirimyuuuuuu *kecups*), jadi inget duluuuuu pernah juga makan di resto mexico waktu honimun ke jerman duluuuuuu, yang ternyata adalah pertama kali saya merasakan masakan mexico.

Sama juga dengan sekarang, tetep tidak cucok boooook (maklum perut dan lidah endonesah).

Mexican Paella

Nasi campur ala Mexico dengan udang, chicken wings, dan saos tomat diatas hot pan dihidangkan dengan garlic bread dan salad. Bahan utamanya adalah beras, olive oil dan kunyit -_-“

Beef Fajitas

Tumisan daging dengan bawang dan paprika, bumbunya krim asam, salsa, keju dan tomat. Disajikan diatas wajan kecil dengan tambahan tortilla, salad, guacamole dan pure kacang.

Vegetables Tacos

Filled Zucchini, eggplant, tomatoes, potatoes served with grilled prawn spit, small salad, garlic bread, salsa and guacamole.

Tres Burritos Variados

3 small burritos, stuffed with spinach, ground beef and seafood

Plato Para Pastres

Naaaaah, ini nih dessert-nyah… pisang dan apel yang digoreng tepung, dihidangkan dengan ice cream dan saus karamel.

Cantina Charlotta

location:

Iglinger Str. 1 86916 Kaufering

Tel. 049-0819.166.200

Culinary Berlin – Menu Idea

Secara di Berlin sono tidak dijamin ayam dan sapinya dipotong secara halal 😀 jadinya wiskulnya serba seafood, ada seh *bandel*-nya penasaran sama si bebek yang sangat crispy *maafkan perut sayaaaaa*, tapi bisa neh, jadi inspirasi buat bikin menu seperti ini xixixi kaya canggih masaknya ajuah 😀 yaaaak, silahkan dicermati, dibuat dan kalo sukses seperti deskripsi saya, HARUS dikirim ke saya yaaaaaa *ngeces lagi dewh -_-”

ini namanya shark’s fin broth, ye ye ye … sup sirip ikan hiu getoooooh, gak tau seh beneran apa gak, dari mulut saya yang terasa seperti kaldu ikan dan telur *iih dari penampakan juga keliatan kaleeeee* ada potongan daging ikannya, gak tau itu daging ikan hiu ato ikan biasa, irisan daun bawang daaan sedikiiiiit rasa wijen 😀

waktu pesan kirain bentuknya seperti yang biasanya gitu *shrimp coctail maksudnya* ada udang, mayo, alpuket, dll… ternyata simpel dan biasa banjet bok penampakan ni shrimps salad, sayurannya cuma timun, kol dan tomat, ditaburin udang dan olive oil + vinegar… segeeeeeer banget!

menu favorit! untungnya nih chinese resto stu gedung sama hotel tempat menginap, jadiiiiiii tiap hari mampir pesen ginian *halah* jujur saya sebenarnya gak syuka menu ikan saus asam manis, tapiiiiiih beneran deh, fried fish with sweet & sour sauce yang ini bikin ketagihaaaaan! fillet ikannya digoreng deep fried gitu, trus saus asam manisnya pake potongan nanas dan paprika yg crunchie… krenyes krenyes…. *slurp

duuuh, saking esmosinya, lupa ni menu namanya apa, pokoke tofu-tofu gitu dewh :p simpel seh sebenernya, cuma potongan tahu sutera/ tofu trus disiram sesame sauce dan taburan irisan daun bawang. biasa saja seh, tapiiiii segeeeer deh, lho kok seger? iya, soale penyajian si tofu dalam keadaan dingin, sesame sauce-nya juga tidak kentel dan oily tapi encer, makanya saya ber nama dia cold tofu *lebay* cucok neh buat dessert 😀

naaaah ini dia si crispy duck yang bikin saya lemah lunglai *:p* habiiiis, lihat di meja tetangga *dasar ngecesan* kok kayanya enyaaaaak getoooh, akhirnya pesan deh, dan emang enyaaaak banjet, bebeknya digoreng kering gitu dan kayanya pake tepung deh makanya bisa crunchie, trus pake saus pedas, naaaah berhubung perut sangat lapar saya gagal mendeteksi apa sih ingridients saus pedas ini, nanya ke waitressnya juga lupaaaaaa, yang pasti tidak pedas kok, mungkin cuma dicampur chilli powder tekstrusnya kental cuma gak terlalu tajam rasanya gitu *bingung kan mendeskripsikannya*.

waktu ke B5 Berlin Outlet kemaren, mampir neh ke resto khusus masakan ikan Nordsee, pas banget kan sama selera 😀 disini banyakan ikan harring dan salmon, wuiiiih langsung deh pesan yang gambarnya pualing menggiurkan 😀

Menu yang kiri ituh namanya Spezialitat des Hauses, maksude menu spesial restonya kalik ya 😀 gak bisa menterjemahkan isinya, cukup meraba-raba, penjelasannya bahasa jerman seeeeeeh. Pokoke ikan goreng tepung, pleus udang 3 beje, kentang tumis dan butter cream cheese.

Kalau menu yang kanan namanyaaaaa Fischfilet “Champignon” HA! ini mah eike tauuu, fillet ikan dikasi saus jamuuur kaaaan *songong*. Betul sodara-sodara, filet ikan Harring, di goreng tepung, siram dengan campuran jamur dan mozarella cheese dan kentang rebus, tetep ya boook dikasihin saus tartar sampai luber gitu . Ealaaaaaa, enyaaaaak 😀

Pantesan saya gak pernah kurus pulang dari sini, biar kerjanya jalan terus *ngirit.com* tapi kalo makannya sebakul mana bisa turun nih BB *mewek sambil gigit korset*

Highchair Legendaris

Saya membeli highchair saat Basti berusia 8 bulan, dimana saya sudah yakin benar dia bisa duduk mantap sendiri. Pertimbangan saya yang paling utama adalah highchair  tersebut kuat dan dapat dibawa kemanapun dengan mudah. Seperti biasa, karena ke-parno-an saya, saya tidak tega membeli booster karena tidak ada lapisan empuk pada dudukan dan sandarannya, lagipula saya juga tidak yakin apakah booster tersebut bisa berdiri dengan mantap di segala tempat.

Pilihan pun jatuh pada Cosatto On The Move Highchair yang memang dirancang untuk travelling. Selain ada lapisan busanya yang empuk, highchair ini mudah dilipat, praktis dan ada tas pembungkus sehingga mudah ditenteng ke mana-mana. Jadi sudah pasti dong, kemanapun Basti pergi, si highchair akan setia menemani hehehe…

Karena saya tinggal di rumah, urusan anak saya lakukan sendiri sehingga saya merasa tidak perlu memperkerjakan seorang nanny. Dan sudah tentu saya ingin menerapkan kedisiplinan kepada Basti untuk makan sambil duduk diatas kursi. Ini juga sebagai strategi untuk menyiasati apabila nanti saat dia sudah bisa berjalan tidak perlu ada acara kejar-kejaran dalam menyuap makanan, atau makan sambil jalan-jalan di taman yang bisa beresiko makanan akan terkena debu atau kuman. Untuk itu saya selalu mengusahakan agar dimanapun Basti berada pada saat jam makan atau cemilan selalu tersedia highchair. Beberapa tempat makan di Jakarta sudah baby friendly alias mereka menyediakan highchair, tapi di kota lain sepertinya masih belum akrab dengan konsep ini.

Bisa dibilang highchair Basti sudah berkelana jauh, mulai dari Bogor, Bandung, Semarang, sampai Yogyakarta. Keluar masuk bagasi mobil, pesawat, hotel dan rumah makan. Kalau punya akun 4square sudah pasti highchair ini jadi mayor dimana-mana. Teman-teman saya menyebutnya Highcahir Legendaris, jadi kalau dapat kenalan baru, selalu dikomentari “Itu loh, emak yang bawa highchair kemana-mana”  hahahaha… Mungkin buat kebanyakan orang yang memandang hal ini terkesan ribet dan berlebihan. Namun menurut saya akan lebih repot lagi buat jika saya dan suami harus memangku atau mengejar si kecil yang super aktif ini sambil menyuapkan makanan. Prinsip saya untuk mendisiplinkan anak, aturannya adalah kalau makan memang harus di meja.

Spesifikasi:

Ukuran berdiri: 98cm x 63cm x 68cm

Ukuran terlipat: 70cm x 63cm x 11cm

Berat: 5.8kg

*tulisan ini dimuat di Mommiesdaily February 2nd, 2011

Menu Sehat Si Kecil Saat Mama Pergi Jauh

Saya seorang working at home mom, tapi terhitung tidak sibuk karena cuma perlu waktu di depan komputer tidak lebih dari 2 jam sehari. Jadi bisa dibilang waktu banyak saya habiskan bersama Sebastian yang sekarang berusia 22 bulan. Untuk urusan anak, saya termasuk emak yang riwil dan parno-an, sehingga hampir semuanya saya kerjakan sendiri biar lebih afdol, termasuk makanannya yang sampai saat ini masih menganut aliran no gula garam.

Kadang karena urusan kerjaan, dalam setahun saya harus pergi keluar kota dua kali dan dalam waktu lama, mulai dari 2 minggu sampai 5 minggu. Si kecil saya tinggal dirumah dengan papanya dan mertua yang di-“impor” dari Bandung, yang saya minta tolong untuk menemani Basti selama papanya kerja, dan dibantu dengan ART. Tapi tetap makanan Basti khusus dimasak oleh mertua, saya secara pelan-pelan menjelaskan masalah masakan yang no gulgar kepada mertua dan beberapa tips untuk masalah masak-memasak makanan Basti, saya usahakan agar mertua tidak merasa tersinggung dengan beberapa aturan yang saya buat. Untungnya mertua orang yang easy going dan enak diajak bekerja sama, jadi saya juga tenang meninggalkan Basti.

Tapi bagaimanapun, biar tidak dicap menantu durhaka 😀 saya berusaha mempersiapkan semua kebutuhan Basti untuk memperingan mertua menemani Basti saat saya pergi jauh.

Beberapa hal yang perlu disiapkan:

  1. Menyusun jadwal kegiatan Basti setiap harinya, termasuk waktu mandi, makan, cemilan, minum susu dan tidur.
  2. Menyusun menu sarapan, cemilan, makan siang dan makan malam Basti setiap hari, dan resep-resepnya. Saya tambahkan pula beberapa resep lagi kalau ada bahan yang kurang atau buat alternatif saja.
  3. Membuat list bahan makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi Basti, dan cara mengolahnya. Dan saya tambahkan beberapa tips penting seputar hal masak-memasak.
  4. Mempersiapkan frozen foods untuk menu makanan Basti sehari-hari, seperti: nugget, bakso, filet ikan, daging giling, gravy, kaldu yang sudah disiapkan per-porsi.
  5. Memperbanyak stok makanan yang masa kadaluarsanya agak lama seperti tepung terigu, tepung maizena, pasta, mi organik, tepung beras, oatmeal, beras organik, yogurt, susu uht cair dan  keju. Saya juga mempersiapkan stok kukis sehat yang saya pesan di cemal cemil ciamik buatan teman saya Echie (promosi nih chie hehehe).
  6. Meninggalkan no telepon dsa langganan beserta kliniknya, juga nomer telepon kakak yang kebetulan juga dokter untuk jaga-jaga bila ada masalah darurat.
  7. Membuat list obat yang biasa diminum Basti kalau sakit, menyiapkan obat di dalam lemari dengan ditempel label dosis agar memudahkan mertua mencari, menjadikannya dalam satu kotak dengan betadine, plester demam dan thermometer.

Setelah yakin semua kebutuhan Basti sudah disiapkan, sayapun bisa berangkat dengan tenang, tapi tetap sms-an dengan suami dan mertua untuk mengetahui kegiatan Basti (sekalian cek ricek hehehe) selama saya tinggal.


Mungkin tips ini bisa membantu para emak-emak yang meninggalkan anaknya untuk bepergian jauh tapi ingin tetap menjaga makanan yang dikonsumsi anak tetap sehat dan bersih. Bisa juga diberi tambahan buat orang rumah supaya tidak sembarang memberikan makanan yang mengandung gula, garam, zat additif dan msg, dibilang saja kalau si anak ada alergi terhadap bahan makanan tersebut, agak bohong sih, tapi kan demi kebaikan si kecil hehehe

*tulisan ini dimuat di Mommiesdaily January 5th, 2011

Welser Kuche – Augsburg, Germany

Feasting like 450 years ago…

Kembali Ke Jaman Batu

Ini benernya udah luama banget, jaman saya bulan madu *cuit cuit* … ngetem lama di kompie, sharing aja kali ye… sapa tau ada yg mo kesono, ngikutin jejak saya bikin anak hahahaha

Dinner dengan candle light dan harus memperhatikan table manner di resto terkenal emang udah wajib hukumnya. Tapi di Welser Kuche, kita malah dituntut untuk menyantap makanan langsung dari tangan.

Di sini ada resto unik yang konsepnya mengikuti abad 15. Nggak cuma interior bangunan yang berdindingkan batu-batuan kasar, tapi dari furniture sampai peralatan makannya juga so last century.

depan resto
inside resto

Sampai di depan resto, yang terlihat bangunan pertokoan, disampingnya akan ada pintu kayu besar dengan plang resto. Jangan bingung, ternyata emang restonya ada bawah bangunan, biar berasa di dalam gua gitu kali ye he he he… Di dalam resto, kita disambut dengan ibu-ibu cantik berpakaian tradisional Jerman yang akan mencucikan tangan kita dengan baskom. Lalu dipasangkan serbet di leher sambil diberikan welcome drink di dalam gelas yang terbuat dari tanduk kerbau.

interior resto

Ruangan resto yang nggak terlalu besar diisi beberapa meja kayu yang besar dengan tatakan kayu danpisau belati sebagai ganti peralatan makan, jadi jangan mengharapkan piring, sendok dan garpu ya. Sedangkan gelas minum, teko, dan mangkuk sup dan salad terbuat dari tembikar.

Oya, salah satu keunikan dari resto ini adalah, bila dalam satu meja ada ceweknya, maka dialah yang harus melayani makan teman-teman semejanya, kalau ternyata satu meja cowok semua, terpaksa ada yang harus mengenakan topi renda untuk berperan sebagai cewek.

roti
salad
sup

Jenis menunya sedikit, seperti abad 15, garam dan bumbu sangat mahal, jadi rasa makanan juga tidak terlalu tajam. Pertama-tama kita disajikan roti dengan mentega yang terbuat dari lemak daging, rotinya tidak bolek dibelah dengan pisau, harus dengan tangan dan dibagikan ke teman-teman (artinya satu roti jangan dimakan sendiri). Kemudian menyusul salad, dan sup dalam mangkuk besar. Para cewek membagi-bagikannya ke dalam mangkuk yang lebih kecil. Untuk mengambil daging dan sayur dalam sup harus menggunakan tangan, sedangkan kuah sup diminum dengan langsung menyuruputnya dari mangkuk, harus dengan suara yang keras, kalau nggak bakal dihukum dengan menggunakan kunci kayu besar yang dikalungkan dileher, dan bisa dilepas kalau dicium oleh tiga orang lawan jenisnya. Selesai menyantap sup, hidung kita dibersihkan dengan bubuk tembakau yang dibubuhkan dengan alat pelontar dari kayu. Seru bok!

hidung dibersihkan

Nah, menu utamanya adalah bebek panggang, dari beberapa ekor yang ditaruh di tatakan kayu yang besar, dipotong-potong dan langsung dibagikan ke masing-masing meja. Mmm… yummy! Kalau steak umumnya disajikan dengan kentang, tapi di Welser Kuche, bebek panggang dinikmati dengan lumatan campuran roti dan sayuran, sama-sama enaknya kok. Kita juga harus menyisakan sedikit sisa makanan di meja untuk orang-orang miskin, kalau nanti saat dikumpulkan ternyata piring kita bersih, kita akan mendapat hukuman (lagi).

roti isi daging dengan saus bruberry
lumatan roti dan sayuran dimakan bareng bebek panggang
bebek panggang, dipotong-potong dan disajikan
eat with your fingers
sisakan makananmu ya
hukuman hehehe

Di akhir jamuan (cieeeeee…. jamuan bok), pelayan resto akan mengucapkan  selamat malam, dan terima kasih atas kunjungannya dengan menggunakan kostum penjaga malam. Waw, what a dinner!

goodnight goodbye

kalo ada yg mo wiskul – Welser Kuche: Maximilianstrasse 83, Augsburg, Germany