Welser Kuche – Augsburg, Germany

Feasting like 450 years ago…

Kembali Ke Jaman Batu

Ini benernya udah luama banget, jaman saya bulan madu *cuit cuit* … ngetem lama di kompie, sharing aja kali ye… sapa tau ada yg mo kesono, ngikutin jejak saya bikin anak hahahaha

Dinner dengan candle light dan harus memperhatikan table manner di resto terkenal emang udah wajib hukumnya. Tapi di Welser Kuche, kita malah dituntut untuk menyantap makanan langsung dari tangan.

Di sini ada resto unik yang konsepnya mengikuti abad 15. Nggak cuma interior bangunan yang berdindingkan batu-batuan kasar, tapi dari furniture sampai peralatan makannya juga so last century.

depan resto
inside resto

Sampai di depan resto, yang terlihat bangunan pertokoan, disampingnya akan ada pintu kayu besar dengan plang resto. Jangan bingung, ternyata emang restonya ada bawah bangunan, biar berasa di dalam gua gitu kali ye he he he… Di dalam resto, kita disambut dengan ibu-ibu cantik berpakaian tradisional Jerman yang akan mencucikan tangan kita dengan baskom. Lalu dipasangkan serbet di leher sambil diberikan welcome drink di dalam gelas yang terbuat dari tanduk kerbau.

interior resto

Ruangan resto yang nggak terlalu besar diisi beberapa meja kayu yang besar dengan tatakan kayu danpisau belati sebagai ganti peralatan makan, jadi jangan mengharapkan piring, sendok dan garpu ya. Sedangkan gelas minum, teko, dan mangkuk sup dan salad terbuat dari tembikar.

Oya, salah satu keunikan dari resto ini adalah, bila dalam satu meja ada ceweknya, maka dialah yang harus melayani makan teman-teman semejanya, kalau ternyata satu meja cowok semua, terpaksa ada yang harus mengenakan topi renda untuk berperan sebagai cewek.

roti
salad
sup

Jenis menunya sedikit, seperti abad 15, garam dan bumbu sangat mahal, jadi rasa makanan juga tidak terlalu tajam. Pertama-tama kita disajikan roti dengan mentega yang terbuat dari lemak daging, rotinya tidak bolek dibelah dengan pisau, harus dengan tangan dan dibagikan ke teman-teman (artinya satu roti jangan dimakan sendiri). Kemudian menyusul salad, dan sup dalam mangkuk besar. Para cewek membagi-bagikannya ke dalam mangkuk yang lebih kecil. Untuk mengambil daging dan sayur dalam sup harus menggunakan tangan, sedangkan kuah sup diminum dengan langsung menyuruputnya dari mangkuk, harus dengan suara yang keras, kalau nggak bakal dihukum dengan menggunakan kunci kayu besar yang dikalungkan dileher, dan bisa dilepas kalau dicium oleh tiga orang lawan jenisnya. Selesai menyantap sup, hidung kita dibersihkan dengan bubuk tembakau yang dibubuhkan dengan alat pelontar dari kayu. Seru bok!

hidung dibersihkan

Nah, menu utamanya adalah bebek panggang, dari beberapa ekor yang ditaruh di tatakan kayu yang besar, dipotong-potong dan langsung dibagikan ke masing-masing meja. Mmm… yummy! Kalau steak umumnya disajikan dengan kentang, tapi di Welser Kuche, bebek panggang dinikmati dengan lumatan campuran roti dan sayuran, sama-sama enaknya kok. Kita juga harus menyisakan sedikit sisa makanan di meja untuk orang-orang miskin, kalau nanti saat dikumpulkan ternyata piring kita bersih, kita akan mendapat hukuman (lagi).

roti isi daging dengan saus bruberry
lumatan roti dan sayuran dimakan bareng bebek panggang
bebek panggang, dipotong-potong dan disajikan
eat with your fingers
sisakan makananmu ya
hukuman hehehe

Di akhir jamuan (cieeeeee…. jamuan bok), pelayan resto akan mengucapkan  selamat malam, dan terima kasih atas kunjungannya dengan menggunakan kostum penjaga malam. Waw, what a dinner!

goodnight goodbye

kalo ada yg mo wiskul – Welser Kuche: Maximilianstrasse 83, Augsburg, Germany